My Random Trip to Cambodia

Rabu 28 Maret 2012, saya bersiap-siap untuk Seminar Tugas Akhir saya (Pre Thesis Defense, kalo bahasa kerennya–red) yang rencananya diselenggarakan siang itu jam 12.00 di depan 3 orang dosen penguji Teknik Sipil ITB. Tiba-tiba tepat sebelum masuk ruang seminar, HP saya berbunyi ternyata telepon dari seorang sahabat yang menanyakan “Nard, ntar sore ke Kamboja ya”, beberapa minggu sebelumnya memang kami pernah membicarakan perihal acara ASEAN People Forum 2012 yang diselenggarakan di Phnom Penh, tapi seingat saya acara itu diselenggarakan akhir April bukan akhir Maret 2012 (maklum banyak pikiran, hehehe)

————————————————————————————————————————————————-

Well, ASEAN People Forum 2012 yang saya hadiri ini diselenggarakan di Phnom Pehn untuk menghasilkan sebuah joint statement dari pemuda dan delegasi (sebagian besar pengusaha dan politisi muda) dari seluruh perwakilan negara ASEAN. Joint statement tersebut berisi pernyataan kolaboratif yang meliputi 13 sektor strategis yang masing-masing menjadi concern bersama di wilayah ASEAN. Joint statement tersebut kemudiah direkomendasikan kepada para kepala negara dan kepala pemerintahan ASEAN yang minggu depannya juga menggelar rapat terbatas di Phnom Pehn ,Cambodia. Belakangan diketahui Presiden SBY yang semula direncanakan hadir, ternyata harus tetap di tanah air dan diwakili oleh Wapres Boediono, karena situasi dalam negeri yang waktu itu kurang kondusif berkaitan dengan isu kenaikan BBM.

————————————————————————————————————————————————-

Singkat cerita setelah selesai seminar sekitar pukul 13.00 saya langsung cari tiket untuk secepatnya sampai di Phnom Penh, karena sebenarnya acara tersebut sudah dimulai tanggal 28 itu juga. Akhirnya randomly, saya dapat pesawat malam itu juga dari Indonesia ke Kuala Lumpur pk 20.00, dan flight ke Phnom Penh dari KL baru pk 06.00 keesokan harinya. “My Life is totally random”.

Di tengah penantian menunggu pesawat yang akan berangkat hari kamis pagi itu saya sempat menyimpan keraguan yang anehnya baru terpikir malam itu. “Kamboja itu negara macam apa ya?” , selama ini saya hanya mendengar Kamboja dan Phnom Pehn itu cuma dari pelajaran Geografi zaman SMP.

Ini negara macam apa, main bola ama Indonesia aja kita masih menang 9-0 (hehehe,,). Ada dulu saya pernah tahu pemain bola paling jago di Kamboja namanya Hok Sochetra, tapi juga susah banget kayaknya ngebobol gawang kita ya..hehehe

Atau juga paling saya tahu dan pernah dengar tentang pemberontakan Polpot dan Khmer merah-nya. Di luar itu? enggak ada! selama saya hidup belum pernah saya dengar ada orang yang merekomendasikan ke saya tentang liburan ke Kamboja, hehehe.

Parahnya di KL airport waktu lagi nunggu pesawat, tiba-tiba ada seorang wanita yang mungkin seumuran saya dateng duduk tepat di sebelah saya. Lalu doi pun ngajak ngobrol, eh begitu tahu saya mau ke Phnom Pehn doi langsung ngacir kabur. Damn! Segitu kacaunya kah negara itu kata saya dalam hati.

Cuma satu kata yang waktu itu terpikir:

Suram!, tapi tanggung juga sudah separo jalan pikir saya waktu itu. Yasudahlah dilanjut saja (pasrah–hehehe)

——————————————————————————————————————————————-

Akhirnya saya mendarat juga di Phnom Pehn sekitar jam 08.00 waktu setempat, (disana waktunya sama seperti WIB-red). Karena tidak tahu apa-apa maka saya jaga-jaga untuk tukar beberapa USD yang saya punya ke Real Cambodia di airport, belakangan itu saya sesali karena di negara itu bahkan orang-orangnya sendiri lebih suka transaksi pakai USD daripada duit negara mereka sendiri. Kacau!

Disana saya dijemput oleh semacam LO untuk saya dari pemerintah Kamboja, seorang laki-laki 23 tahun dari Depkeu-nya Kamboja yang baru selesai dari pendidikannya di Perancis dan seorang Major Police ( kalau di Indonesia setingkat Komisaris Polisi a.k.a Kompol), mereka berdua ditugaskan untuk ‘take care of me’ katanya selama disana hehe.

Satu hal yang mengesankan dari Kamboja salah satunya memang karena orang-orang disana yang memang sangat ramah. Mayoritas mereka beragama Budha dan suku mayoritasnya adalah suku Khmer dengan bahasa nasional mereka bahasa Khmer.

Tentunya acara inti yang saya ikuti selama di Phnom Penh adalah ikut conference yang diselenggarakan di Chaktomouk Conference Hall, yang katanya paling bagus di Phnom Pehn itu. Jauh memang kalau dibandingkan dengan gedung-gedung di Jakarta.

Untungnya di conference tersebut saya bertemu dengan dua orang delegasi dari Indonesia lainnya, semula saya berpikir mungkin saya satu-satunya delegasi Indonesia disana dan akan menghabiskan waktu dengan kesendirian hehehe. Ternyata disana ada juga Lukman (mahasiswa jurusan politik UI, yang juga president ISAFIS) dan Lusia (mahasiswa jurusan HI UPH). Akhirnya dengan perkenalan singkat, kami saling menjadi partner in-crime satu sama lain. Entah bagaimana perjalanan saya ke Kamboja tanpa mereka (cie elah hehehe).

Indonesia Delegation during ASEAN People Forum 2012

During the Conference with the Filipino

During the Conference with the Filipino

Berbicara tentang Kamboja, Kamboja saat ini tumbuh sebagai negara yang sedang berkembang ekonominya. Tapi sama dengan negara-negara berkembang lainnya pemerataan ekonomi dan kesejahteraan masih menjadi problem tersendiri bagi mereka. Di jalanan kamboja yang kecil-kecil itu saya sering melihat mobil mewah macam range rover dan lexus melintas, sama seringnya dengan melihat avanza melintas di jalanan Bandung.

Phnom Pehn, ibukota Kamboja memang masih mirip kota Pekalongan, atau mungkin Jakarta tahun 1980-an. Tapi beberapa distrik disana ada yang juga berkembang pesat, kawasan disekitar kompleks kasino Nagaworld (yang konon banyak turis asing termasuk dari Indonesia juga bermain judi disana–red) cukup mewah, mungkin gedung-gedungnya mirip kawasan perniagaan SCBD di Jakarta.Sepertinya masih banyak potensi bisnis yang bisa diolah dari negara-negara berkembang Indochina seperti Kamboja ini.

Untuk rekomendasi liburan banyak orang disana merekomendasikan ke Siem Reap, kota di selatan Kamboja dimana disana juga terdapat bandara Internasional, selain di Phnom Pehn. Di Siem Reap ini banyak turis datang untuk mengunjungi Angkor Wat dan Angkor Tom. Sayangnya kunjungan 3 hari saya terlalu singkat untuk sampai kesana, saya hanya dihadiahi sebuah buku tentang Angkor Wat oleh LO saya disana. Dan dari buku itu, sepertinya Siem Reap lah yang jadi andalan kunjungan pariwisata disana.

at Royal Palace Cambodia, Phnom Penh

at Royal Palace Cambodia, Phnom Penh

SUMPAH PEMUDA JILID 2.0: Sebuah Karya Untuk Bangsa dan Negara

Tulisan ini saya buat menjelang 2 hari lagi pelaksanaan acara Indonesian Young Changemakers Summit (IYCS) Sumpah Pemuda jilid 2.0 pada 10-13 Februari 2012 ini.

———————————————————————————————————————–

Akhir pekan pada Bulan Ramadhan 2011 lalu, sebuah gagasan lahir dari diskusi beberapa anak muda yang hari itu berkumpul mengisi waktu untuk menunggu berbuka puasa dan menunggu waktu sahur bersama. Gagasan mereka sederhana, bagaimana dapat berkarya untuk Bangsa dan Negara dengan cara dan zaman mereka sendiri. Sebuah maksud dan tujuan yang tulus untuk bisa berguna bagi Bangsa dan Negara-nya akhirnya lahir dalam wujud sebuah karya yang dinamai Sumpah Pemuda Jilid 2.0. Sehingga berkolaborasilah anak-anak muda Indonesia dari berbagai latar belakang yang sangat majemuk, dari berbagai organisasi kepemudaan yang berbasis karya, untuk bersama-sama berkarya dalam Sumpah Pemuda Jilid 2.0 ini.

Konon katanya sebagaimana diramalkan oleh beberapa futurolog, Indonesia diprediksi akan menjadi sebuah kekuatan baru perekonomian dunia pada Tahun 2030, Lebih dari 50% penduduk Indonesia akan berada pada usia produktif dibawah 40 tahun. Kondisi seperti inilah yang sekarang dialami oleh China dan pada tahun 1990-an awal dialami oleh Amerika Serikat. Hal inilah yang harus dijadikan motivasi oleh generasi muda Indonesia saat ini untuk terus berkarya bagi Bangsa-nya, generasi muda Indonesia saat inilah yang diproyeksikan akan berada sebagai para pemangku dan pengambil kebijakan strategis pada masa – masa itu. Generasi muda Indonesia saat ini mempunyai peranan yang vital bagi masa depan Bangsa-nya.

Sumpah Pemuda Jilid 2.0 ini bermaksud untuk menghimpun segala kekuatan yang dimiliki oleh generasi muda Indonesia saat ini. Tentunya kekuatan dalam bentuk karya-karya perubahan yang telah,sedang dan akan dipersembahkan oleh anak – anak muda Indonesia dari segala penjuru daerah , bagi masyarakat, bangsa dan negara-nya. Karya – karya dan semangat positif inilah yang juga harus bisa tertular dan menginspirasi generasi muda Indonesia secara lebih luas.

Tentunya indikator keberhasilan dari Karya Sumpah Pemuda Jilid 2.0 ini adalah berupa sebuah efek domino yang mungkin tidak dapat terlihat secara instan, tapi paling tidak karya ini dapat menjadi sebuah kontribusi kecil dari generasi muda Indonesia saat ini bagi masa depan Bangsa-nya.

Tentunya berbagai tanggapan terkait Sumpah Pemuda Jilid 2.0 tentunya akan menjadi sebuah dinamika tersendiri. Yang jelas Sumpah Pemuda Jilid 2.0 ini hanyalah sebuah karya yang digagas oleh anak-anak muda Indonesia pada zamannya, yang dengan segala keterbatasannya rindu melihat kejayaan Bangsa-nya. Karya ini bukan berorientasi pada ‘dignity’ masing-masing individu ataupun kelompok, tetapi berorientasi pada ‘dignity’ Bangsa Indonsesia sebagai bangsa yang besar.

Semoga segala rangkaian acara IYCS dan Sumpah Pemuda Jilid 2.0 ini berjalan lancar dan sukses!

Salam,

for further information click www.indonesianchangemakers.org and follow @IDChangemakers

“Ceng Li” ,It’s all about Character

Suatu sore mungkin hampir 3 tahun yang lalu, saya duduk di sebuah kelas. Dosen yang mengajar kami waktu itu termasuk salah satu dosen yang paling dikagumi di Jurusan saya, seorang mantan pengambil kebijakan strategis di Negeri  ini. Di saat semua mahasiswanya menyimak kuliah dengan serius, ada segerombolan mahasiswa lain yang duduk tepat di belakang saya, sedari tadi asyik ngobrol dan bercanda sendiri. Gerombolan ini belum sadar walaupun beberapa kali sang Dosen sudah mencoba melirik. Akhirnya dengan segala kesabarannya sang dosen menegur dengan sabar dan senyum khas-nya. Di akhir ‘teguran-nya’ itu, beliau berujar pendek dengan mimik yang serius:

“When you lost your character, you lost everything”

—————————————————————————————————————

Di dalam filosofi dan pergaulan di lingkungan Tionghoa, Ceng Li adalah ungkapan yang hampir ditemui dalam pergaulan dan obrolan sehari-hari. Tentunya Ceng Li ini akan memiliki arti yang sangat luas jika dijabarkan satu per satu. Ceng Li bisa berarti : bagus, sudah sepatutnya (semestinya), masuk akal , lurus hati (jujur), sesuai, pas, pantas. Dari sekian banyak arti kata Ceng Li , bisa disimpulkan bahwa Ceng Li bermuara dan merupakan interpretasi yang luas dari sikap Fair, sikap yang sepantasnya dilakukan sesuai dengan etika dan pergaulan yang berlaku. Konon katanya jika setiap hal yang kita lakukan didasari atas prinsip Ceng Li ini, pintu rezeki akan terbuka dengan sendirinya.

Di dalam pergaulan sehari-hari, terutama saat terjadi konflik, ungkapan “Mbo Ceng Li” kerap terdengar dari pihak yang sedang mengadu (curcol). Tentunya “Mbo Ceng Li” ini adalah bentuk negasi dari “Ceng Li”. Jadi memang ada benarnya, Ceng Li adalah sebuah karakter yang semestinya dimiliki oleh setiap manusia. Jika karakter fair Ceng Li itu hilang, bukan tidak mungkin kita kehilangan semuanya, kehilangan simpati, teman, kesempatan dan akhirnya rezeki.

Tentu harapannya, walaupun tidak mudah, Semoga kita selalu dapat belajar untuk selalu bisa berkarakter fair, adil apa adanya, bertindak seharusnya, tahu budi dan tentunya tidak tamak. Dengan demikian (katanya) rezeki akan datang dengan sendirinya :) .

Aminnn!

Kisah Rio dan SNMPTN

Juni 2011 ini saya menjalani program praktek kerja yang diwajibkan kampus untuk para mahasiswa tingkat akhir. Pendek cerita saya ditempatkan di sebuah proyek konstruksi pembangunan suatu Gedung Pemerintah di Jakarta Barat, yang proyeknya dikerjakan oleh sebuah perusahaan kontraktor BUMN.

Sudah sekitar empat minggu ini, saya ikut merasakan kehidupan di proyek dengan segala dinamikanya, dari kehidupan para tukang sampai dengan para engineernya. Dari berminggu – minggu melihat kehidupan di proyek yang ‘itu – itu’ saja, ada seseorang yang menarik perhatian saya.

Di proyek bangunan 6 lantai itu, ada seorang ibu yang membuka warung di dekat bedeng proyek. Di warung itulah para kuli bangunan, tukang, sopir dan petugas keamanan makan dan minum sehari – hari. Semuanya tampak biasa – biasa saja, kecuali anak kecil berusia 12 tahun, anak ibu sang pedagang warung itu. Anak ini setiap sebelum berangkat dan sepulang sekolah, rajin membantu ibunya berjualan. Dia membuat minuman, mencuci piring dan mengantar makanan sementara sang Ibu memasak. Anak ini dengan senyum tulusnya menikmati pekerjaannya membantu ibunya, sementara di lapangan sebelah proyek anak – anak seumurnya bermain bola.

Suatu sore, sambil minum kopi di warung ibunya, saya tertarik mengajak dia mengobrol. Belakangan saya tahu namanya: Rio Juliansyah, nama yang terdengar bagus.
“Cita – cita kamu apa sih Rio?”, Tanya saya.
”Saya mau kuliah Pak, jadi orang sukses, jadi bos biar bisa beli mobil.” , Jawab Rio.

Mungkin Rio adalah sedikit dari anak Indonesia berumur 12 tahun yang sudah punya mimpi dan cita – cita. Seumur itu saya bahkan belum punya cita – cita. Saya akhirnya juga mengobrol dengan ibunya, Alhamdulillah katanya karena sekolah SD dan SMP Negeri sekarang sudah gratis SPP-nya, tapi belum tahu nanti kalau SMA dan Kuliah. Saat itu saya berpikir dan berharap, mudah – mudahan jalan Rio akan terbuka, karena baktinya kepada Ibunya.

———————————————————————————————————–

Beberapa hari kemudian, saya menjemput adik saya di sebuah tempat Bimbingan Belajar terkemuka di Jakarta. Saat menunggu di depan saya ngobrol dengan beberapa siswa kelas 3 SMA yang sudah lolos saringan SNMPTN 2011. Ternyata SNMPTN 2011 ini berbeda dengan SNMPTN zaman saya (3 tahun lalu) ataupun SNMPTN sebelumnya. SNMPTN atau SPMB zaman dulu membebaskan para peserta mengisi berapa nilai nominal uang masuk mereka, banyak yang mengisi tanpa uang masuk (Rp 0) dan diterima selama mereka berhasil dalam tes tersebut. Hal ini jelas sangat berbeda dengan tahun ini, sekarang bahkan ketika seseorang telah dinyatakan diterima masuk sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit, dana yang harus dibayarkan sebagai uang masuk cukup besar. Di sebuah PTN favorit , ada yang mematok biaya minimal sampai Rp 55 Juta untuk mereka yang lolos SNMPTN, memang ada program meminta subsidi bagi mereka yang kurang mampu, tetapi kuantitasnya juga sangat sedikit dan terbatas. Di PTN favorit lainnya ada juga yang mematok biaya minimal Rp 25 Juta bagi mereka yang lolos SNMPTN.

Saya kembali teringat Rio, yang punya mimpi dan cita – cita kuliah dan jadi orang sukses. Mungkin di zaman ini bekerja dan belajar keras , bahkan rajin berbakti kepada orang tua tidak akan mempengaruhi jalan menuju kesuksesan meraih cita – cita kuliah di PTN favorit, bagi mereka yang tak sanggup membayar belasan bahkan sampai puluhan juta. Mungkin di zaman ini yang paling penting adalah “Berapa lo bisa bayar?”

Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang dahulu bisa menjadi sarana bagi generasi muda dari semua golongan untuk memperbaiki nasib dan meraih cita – citanya telah beralih fungsi. PTN saat ini terbatas dan hanya bisa dinikmati oleh golongan tertentu. Entah siapa yang salah, tetapi perubahan ini hendaknya menjadi bahan evaluasi dan koreksi dari pihak – pihak terkait.

Mungkin ungkapan “ Selamat Datang Putera – Puteri Terbaik Bangsa” yang biasa dipasang saat daftar ulang mahasiswa baru di kampus – kampus PTN harus secepatnya diganti dengan “Selamat Datang Putera – Puteri Termahal dan (Mungkin) Terbaik Bangsa”.

Karmaka Surjaudaja: A Humble and Inspiring Tycoon

Sudah sekitar dua tahunan yang lalu, saya menyaksikan Pak Karmaka dalam program talkshow Kick Andy di Metro TV. Sejak saat itu, saya mulai mengikuti dan mengagumi sosok beliau. Setelah itu saya pun membeli dan membaca buku biografi Karmaka Surjaudaja yang berjudul “Tidak Ada Yang Tidak Bisa” yang ditulis oleh Dahlan Iskan. Buku ini menceritakan perjalanan hidup Karmaka, yang sedikit banyak mengisahkan kisah beliau dalam membangun Bank NISP (sekarang menjadi OCBC NISP). Buku ini sangat menginspirasi saya, it is one of the best book that I’ve ever read. Maka Sejak saat itu jugalah saya resmi menjadi penggemar Pak Karmaka.

Biografi Karmaka Surjaudaja

Biografi Karmaka Surjaudaja

Hal yang menjadi kebetulan adalah orang tua saya di Semarang ternyata adalah salah satu nasabah OCBC NISP. Dan sekitar setahun yang lalu ayah saya mendapat kiriman buku biografi yang sama dari OCBC NISP, beserta tanda tangan asli Pak Karmaka dan tulisan asli tangan beliau : “Semoga Bapak sekeluarga sehat dan senantiasa diberkati selalu”. Saat itu saya semakin mengagumi sosok Pak Karmaka, sebagai seorang pengusaha besar yang sukses dan rendah hati. Entah berapa banyak waktu yang dibutuhkan beliau untuk menandatangani buku biografinya dan menuliskan pesan kepada nasabah-nasabahnya seperti orang tua saya.

Karmaka Surjaudaja adalah seorang pengusaha besar yang sukses. Beliau merasakan susahnya hidup dari menjadi kuli di pabrik tekstil, pelayan di restoran, guru olahraga sampai akhirnya membangun bank NISP, menjadi salah satu Bank terbesar di Indonesia saat ini. Saat ini Karmaka Surjaudaja adalah Chairman Emeritus dari OCBC NISP. Anaknya, Pramukti Surjaudaja yang saat ini menggantikan posisinya sebagai Chairman OCBC NISP adalah orang ke 102 terkaya di Indonesia versi Globe Asia.

 

Sosok Pengusaha Sukses, Yang Penuh Kerendahan Hati

Desember 2010 yang lalu, dalam suatu rapat bersama teman-teman panitia ITB Entrepreneurship Challenge (IEC) 2011 , saat itu kami sedang membahas persiapan dan perencanaan Seminar Nasional IEC 2011 yang akan berlangsung tanggal 19 Februari 2011. Saya pun mengusulkan agar Karmaka Surjaudaja diundang sebagai salah satu pembicara dalam seminar tersebut. Anehnya banyak di antara teman-teman saat itu yang tidak tahu siapa Karmaka Surjaudaja. Entah mereka yang kurang gaul, atau saya yang kegaulan hehehe..

Singkat cerita akhirnya kami-pun menyampaikan undangan kepada Pak Karmaka untuk menjadi salah satu pembicara di Seminar Nasional IEC 19 Februari 2011 di Sasana Budaya Ganesha ITB, seminar ini diikuti oleh 1600 peserta. Kami mengundang beliau untuk berbicara selama satu sesi bersama Bp. Dahlan Iskan (sekarang Dirut PLN), yang juga menulis buku biografi Pak Karmaka.

Tidak disangka Pak Karmaka member respon dengan cepat, dan mengajak kami untuk makan siang dan ngobrol-ngobrol di kantor beliau di Taman Cibeunying Bandung. Beliau bahkan menanyakan apakah ada transportasi dari kampus ke kantornya, jika tidak ada beliau akan mengirim jemputan. Luar biasa! Kami ini hanyalah anak kemarin sore yang bukan siapa-siapa.

Siang itu, 14 Februari 2011 akhirnya saya ditemani 2 orang teman berkunjung ke ruang kerja beliau di kantor OCBC NISP Bandung. Pak Karmaka menyambut kami, member salam dan kemudian menangis. “Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu anda-anda, mahasiswa ITB yang hebat-hebat. Saya dahulu ingin kuliah di ITB, saya sudah diterima di Elektro ITB, tapi saya tidak punya uang untuk membayar kuliah. Ketika saya meminta belas kasihan beasiswa ke orang-orang, mereka malah mengejek-ejek saya” , Pak Karmaka membuka percakapannya siang itu sambil bercucuran air mata. Belakangan saya tahu, beliau saat ini mempunyai ribuan anak asuh dari SD-Mahasiswa, beberapa diantaranya bahkan ada yang sampai menjadi Ph.D dan Doktor. Itulah mungkin wujud ‘pembalasan dendam’, supaya tidak ada orang-orang yang bernasib sama seperti beliau dahulu.

Akhirnya kami-pun berbicara banyak hal, setelah membicarakan masalah teknis terkait Seminar, beliau-pun bercerita kisah hidupnya. Beliau menekankan pentingnya rendah hati dan kejujuran di dalam hidup. Ketulusan dan kelembutan hatinya sangat terlihat dalam perbincangan sore itu. Berulang kali saat menceritakan kisah hidupnya, beliau menangis terharu. Pak Karmaka adalah seorang pengusaha yang menggunakan hati dalam setiap tindakannya.

Beliau menceritakan berbagai macam kesusahan hidupnya ,jatuh bangunnya NISP sampai kesehatannya sendiri. Beliau kini berusia 78 tahun, sudah menjalani cangkok hati dan ginjal, akibat rusaknya kedua organ vitalnya tersebut. Hampir seminggu sekali beliau rutin menjalani pengobatan, tetapi semangatnya menutupi fisiknya yang sebetulnya kurang sehat, dengan semangatnya beliau tetap tampak gagah dan segar. “Semangat itu mengalahkan segalanya”, katanya

Akhirnya setelah berbincang-bincang selama 2,5 jam, kami mohon diri. “Untuk kalian, pintu kantor saya selalu terbuka” , ucapnya menutup percakapan sore itu. Saat kami mohon diri beliau pun bertanya kapan akan berkunjung lagi. Yang mengesankan sore itu, beliau mengantar kami keluar dari kantornya di lantai 8 gedung itu sampai ke kendaraan saya di tempat parkir. Luar biasa!

Beberapa hari setelah itu di suatu siang saat makan siang di kampus, HP saya berdering. “Selamat Siang, benar dengan Bapak Renard?” , karena suara yang kecil dan suasana kantin di kampus yang gaduh saya pun agak mengeraskan suara saya “Benar Pak,dengan syapa ya ini?” Dari ujung telepon menjawab “Mohon maaf Pak saya mengganggu, Saya Karmaka Pak, yang kemarin kita bertemu.” Saya terdiam sejenak, betapa luar biasa rendah hatinya sosok Pak Karmaka ini. Tutur katanya begitu sopan, padahal yang dihadapinya hanya seorang anak kemarin sore yang belum punya apa-apa. Setelah menanyakan kabar, beliau menanyakan beberapa hal terkait teknis seminar.  Biasanya untuk orang sekaliber beliau, sekretarisnya lah yang akan menghubungi untuk hal-hal teknis seperti itu, tetapi Beliau benar-benar berbeda. Sangat rendah hati dan bersahaja.

Akhirnya pada hari H Seminar Nasional 19 Februari 2011 , Pak Karmaka datang bersama anaknya, Pramukti Surjaudaja, Chairman OCBC NISP saat ini, sosok yang sangat rendah hati dan bersahaja juga seperti Pak Karmaka. Beliau naik ke panggung dengan menggunakan tongkat, kakinya yang bengkak akibat kesehatannya yang sudah menurun tidak terlalu kuat untuk berdiri lama. Saya masih ingat kata-kata pertamanya di hadapan 1600 orang itu, dengan rendah hati beliau berkata “Perkenalkan, saya Karmaka, saya Cuma lulusan SMA, mohon bimbingan ,saran dan masukannya.”

Tentunya masih banyak hal inspiratif lainnya dari Karmaka Surjaudaja yang belum saya sempat tuliskan disini. Tidak sulit untuk menemukan hal-hal inspiratif tersebut dalam buku beliau. Satu hal yang sangat menonjol bagi saya dari beliau adalah kerendahan hatinya. Di tengah-tengah sebuah kesuksesan, kerendahan hati kadang menjadi hal yang terlupakan. Semoga kisah ini pun dapat terus menginspirasi untuk selalu menjadi rendah hati, sehebat dan sesukses apapun kita.

Semoga Pak Karmaka selalu dilimpahi kesehatan, dan senantiasa diberi kekuatan untuk menginspirasi lebih banyak orang lagi. Amin!

Bersama Karmaka Surjaudaja

Bersama Karmaka Surjaudaja

Makassar : an Innovative City

Pada 20 -22 Mei yang lalu saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan. Saya diundang kesana untuk berbagi cerita dalam sebuah seminar entrepreneurship oleh sebuah Universitas negeri disana untuk sharing dalam sebuah seminar yang bertemakan Entrepreneurship, saya berbagi pengalaman tentang perjalanan ITB Entrepreneurship Challenge (IEC) 2011 yang baru saja berakhir. “Thanks God, it was my first time to visit Makassar.”

Menarik untuk menjelajah dan ‘melihat’ seperti apa kota Makassar,yang baru saja meraih penghargaan Innovative City Award dari Kementerian Dalam Negeri RI pada Februari 2011 yang lalu. Di pesawat menuju Makassar, saya berkenalan dengan seorang 30 tahun-an yang duduk di sebelah saya. Same with me, it was his first time to visit Makassar. Belakangan saya tahu, ternyata dia bekerja di sebuah franchise Gym yang cukup ternama di berbagai kota besar di Indonesia. Kedatangannya ke Makassar untuk membuka cabang pertama mereka di kota itu. ” Makassar itu penuh potensi, kota paling maju di Indonesia timur”, dia menerangkan kepada saya. Yang menarik lagi, belakangan saya tahu dia mengikuti serial ITB Entrepreneurship Challenge (IEC) 2011 di Metro TV setiap 15.00 WIB. (hehehe,, entah beneran ato enggak, i was very glad to hear that).

Akhirnya saya mendarat di Sultan Hasanuddin International Airport, bandara ini cukup bagus infrastrukturnya, one of the best airport in this country, I think.  Lebih bagus dari Hang Nadim International Airport di Batam dan jauh lebih besar dan bagus juga dari Ahmad Yani International Airport di Semarang (airport kebanggaan warga Semarang, kampung halaman saya..hehe). Tidak salah jika Makassar adalah salah satu kota yang paling  maju di Indonesia Timur.  Tampaknya berlaku peribahasa baru : “Just judge a city by it’s airport”(hehehe..)

Sultan Hasanuddin International Airport Makassar

Sultan Hasanuddin International Airport Makassar

Setelah itu saya meluncur ke hotel tempat saya menginap, di sekitaran Jl. Adhyaksa Makassar. Ternyata saya menjadi pembicara disana bersama Dr. Faiz (RAMP IPB) dan teman lama saya, yang sudah hampir lebih dari setahun ga pernah ketemu : pasangan Suami-Isteri pengusaha franchise Pisang Ijo ‘JustMine’ Erwin Burhanudin dan Riezka Rahmatiana. Untuk Erwin dan Riezka, ini juga kali pertama mereka datang ke Makassar sama seperti saya. Beruntung kami ternyata memiliki waktu yang cukup lumayan untuk keliling dan ‘menikmati’ kota Makassar yang indah.

Saya mencoba berbagai macam kuliner khas yang luar biasa mantapp! Mulai Seafood khas Makassar di RM Paotere, yang juga restoran favorit SBY-JK katanya, terbukti memang ikan-ikan disana benar-benar segar dan mantap! Saya juga mencoba Seafood di RM Lae – Lae ,diseputaran pantai Losari,yang terkenal dengan ikan kerapu-nya. Makanan wajib di Makassar: Konro Karebosi, yang konon menghabiskan ratusan kg iga sapi dan Coto di seputaran jalan Pettarani juga gak ketinggalan saya cobain. Saya juga mencicipi mie kering titi , yang mirip dengan I-fu mie tapi teksturnya lebih kecil dan renyah. Malam hari di seputaran pantai Losari ,kami makan Nyuknyang (gw gatau bedanya nyuknyang ama bakso dimana..hehe) dan es pisang ijo. Konon katanya ada juga kue khas asli Makassar yang namanya peppa janda (kue janda-red) entah gimana rasanya, sayang gw belum sempet coba juga..hahaha

Berbicara tentang kuliner, Makassar memang kaya akan berbagai macam jenis kuliner yang memang luar biasa enak rasanya. Saya mulai berpikir bahwa dilihat dari aneka ragam dan variasi jenis kulinernya saja, Makassar adalah kota yang sangat inovatif. Berbicara tentang es pisang ijo, es pisang ijo ini merupakan ‘dessert’ khas Makassar selain es palubutung. Uniknya teman saya, pasangan suami-istri bos franchise pisang ijo yang sukses dan telah memiliki ratusan outlet di seluruh Indonesia itu, belum pernah sama sekali makan es pisang ijo di Makassar,,hehe.. So, Makassar sebagai sebuah kota yang inovatif, terbukti sukses menginspirasi banyak orang, bahkan orang yang belum pernah datang kesana sama sekali .

Saya juga sempat berkunjung ke Trans Studio disana, yang konon katanya merupakan salah satu indoor theme park terbesar di dunia. Trans Studio ini diresmikan pada tahun 2009 yang lalu oleh PT Trans Kalla, kerjasama antara Para Group dan keluarga Kalla. Trans Studio ini dibangun diatas lahan seluas 24 ha ,cukup luas untuk sebuah kawasan mall yang dilengkapi dengan wahana permainan indoor dan  juga akan dibangun hotel berbintang 5 dan apartemen di kawasan tersebut. Yang menarik adalah kawasan yang demikian luas itu, konon katanya adalah pantai yang kemudian di-reklamasi. Terlepas dari berbagai dampak yang ditimbulkan dari reklamasi, sebuah inovasi yang cukup berani untuk mengubah kawasan yang semula pantai menjadi sebuah kawasan pusat hiburan yang terpadu.

at Trans Studio Makassar

at Trans Studio Makassar

Saya berdecak kagum lagi mendengan rencana pembangunan Center Point of Indonesia (CPI). CPI direncanakan akan menjadi kawasan bisnis global terpadu di Indonesia timur, dengan luas yang direncanakan sekitar 200 ha, terletak di Kawasan Tanjung Bunga Pantai Losari. Di CPI ini direncanakan akan ada berbagai fasilitan insfrastruktur bisnis, hiburan, perkantoran, hotel dan lapangan golf dengan pemandangan indah langsung ke laut lepas. Jika CPI ini selesai dibangun, mungkin Makassar akan menjadi kota metropolitan terbesar di Indonesia setelah Jakarta. Kembali menarik, lahan seluas 200 ha itu semula adalah pantai yang di reklamasi. Inovasi mengubah lahan yang semula pantai menjadi sebuah kawasan bisnis internastional ini mungkin baru satu-satunya di Indonesia.

Center Point of Indonesia

Center Point of Indonesia

Hampir semua kota di Indonesia memiliki pusat kota yang biasa disebut ‘alun-alun’, yang juga sering dijadikan icon kota tersebut. Demikian juga Makassar yang memiliki Lapangan Karebosi sebagai pusat kota sekaligus ikon kota yang memiliki nilai sejarah. Melihat Lapangan Karebosi, saya teringat dengan Lapangan Simpang Lima di Semarang, yang konsep dan tampaknya hampir sama. Lapangan Karebosi ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan Makassar, Kesebelasan PSM Makassar juga menggunakan lapangan ini untuk latihan di sore hari. Dahulu seperti halnya Simpang Lima, konon katanya Karebosi juga menjadi kawasan yang semrawut, dimana banyak pedangang kaki lima yang tak beraturan sampai praktek prostistusi dan waria disekitarnya. Belakangan keadaan baik itu di Simpang Lima maupun Karebosi jauh lebih tertib dan nyaman dilihat. Pemkot Semarang telah melakukan relokasi dan penertiban di seputar kawasan Simpang Lima,sehingga kawasan ini sekarang menjadi lebih tertib dan teratur.

Sementara itu Makassar dengan cukup inovatif, mencoba mengatasi persoalan itu dengan membangun Mall bawah tanah, yang menarik Mall Karebosi Link itu berada di bawah Lapangan Karebosi, dan Lapangan Karebosi tetap dapat berfungsi seperti semula. Ada banyak kota besar di Indonesia yang memiliki alun-alun yang semula semrawut, tapi hanya Makassar yang memiliki inovasi untuk membangun sebuah mall bawah tanah di bawahnya. Jadi tidak berlebihan kalau Makassar diberikan penghargaan sebagai Innovative City pada Februari 2011 yang lalu.

About ITB Entrepreneurship Challenge (IEC): The History and The Process

Seperti yang saya tulis pada posting saya yang terakhir, hampir selama 10 bulan terakhir ini saya banyak beraktivitas di kepanitiaan ITB Entrepreneurship Challenge 2011 (IEC2011).

IEC 2011 ini belakangan berhasil menjadi acara mahasiswa pertama Indonesia yang dijadikan tayangan di Stasiun TV Nasional (Metro TV) sebanyak 8 episode ,setiap Hari Sabtu jam 15.00 WIB ,mulai 16 April 2011 yang lalu.

Anyway, banyak pertanyaan yang belakangan saya sering temui terkait latar belakang dan asal muasal dari IEC. Semoga tulisan saya ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

The History and The Process of ITB Entrepreneurship Challenge (IEC)

Goris Mustaqim

Goris Mustaqim

ITB Entrepreneurship Challenge (IEC) ini adalah sebuah rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa ITB (KM-ITB) pertama kali pada tahun 2005 dengan foundernya Goris Mustaqim (SI’01) dan Juwanda (TI’01) , mereka dibantu oleh Ridwan (BI’03) dan Zaky (IF’04). Ide tersebut waktu itu muncul karena sebuah visi yang sama, bahwa mahasiswa (dalam hal ini mahasiswa ITB) harus mampu menjadi pelopor dan penggerak gerakan entrepreneurship di kalangan generasi muda, bagaimana mengubah mindset kebanyakan mahasiswa dari ‘pekerja’ menjadi ‘wirausaha’. Semangat dan visi inilah yang sampai saat ini masih bertahan dan baru selesai juga diperjuangkan oleh teman-teman Panitia IEC 2011.

IEC ini sendiri merupakan serangkaian acara yang berintikan kompetisi ide bisnis antara mahasiswa se-Indonesia. Satu tim peserta IEC yang terdiri dari 3 orang harus mensubmit proposal yang berisi ide bisnis mereka, dan kemudian akan dilakukan seleksi dalam beberapa tahap. Serangkaian acara ini terus mengalami dinamisasi dari tahun ke tahun, dan puji syukur semakin banyak dan luas juga stakeholder yang terlibat dalam acara ini dari tahun ke tahunnya. Salah satu indikatornya terlihat dari jumlah proposal yang masuk pada IEC 2011 ini yang berkisar sekitar 700 proposal, jumlah ini lebih dari 1,5 kali lipat dari jumlah proposal yang masuk pada IEC 2010, yang berkisar sekitar 420 proposal. Sementara dari IEC 2006 sampai dengan sebelum IEC 2010 proposal yang masuk  berkisar di sekitar 200 proposal.

Proposal yang diterima oleh panitia kemudian diseleksi oleh dewan juri untuk dipilih 20 besar terbaik. Kemudian 20 besar tim terbaik ini harus mengikuti E-Camp, dimana pada E-Camp yang berlangsung sekitar 5 hari tersebut peserta akan diberikan berbagai pengetahuan tentang kemampuan dasar ,teknik dan strategi bisnis dari para pakar dan praktisi. E- Camp ini mulai diadakan pada IEC 2010. Setelah E-Camp ini peserta 20 besar diminta untuk men-submit ulang proposal mereka dalam bentuk business plan, berdasarkan pengetahuan dasar yang telah mereka dapatkan dalam E-Camp tersebut.

Pada IEC 2011 ini, dikembangkan sebuah konsep baru yang bertajuk “Business Skill Challenge” (BSC) yang dikenal juga sebagai “Grand Final IEC” yang diikuti oleh 10 besar tim terbaik. BSC ini bertujuan untuk menguji hard skill dan soft skill bisnis para peserta. Pada BSC ini peserta ditantang untuk merancang dan mengembangakan sebuah produk baru dari sebuah company, setelah mereka melakukan market survey. Peserta juga ditantang untuk langsung terjun ke lapangan menjual produk dan berlomba-lomba untuk mendapatkan profit terbanyak. Setelah melewati proses BSC ini, peserta harus mengikuti “Final Presentation”, dimana mereka akan mempresentasikan ide bisnis dan business plan mereka kepada para juri.

Acara puncak IEC dari tahun ke tahun adalah Gala Dinner, yang juga merupakan malam penganugerahan dan pengumuman pemenang. Pada Gala Dinner ini 10 besar tim dapat juga bertemu langsung dengan para investor yang diundang. Sehingga para peserta yang tidak mendapatkan kejuaraan-pun memiliki kesempatan untuk memperoleh modal bagi calon usaha mereka. Hadiah IEC ini sendiri dari tahun ke tahun, harus digunakan sebagai modal usaha untuk merealisasi ide bisnis mereka.

IEC pada dasarnya mengusung sebuah konsep yang bermuara pada lahirnya sebuah realisasi bisnis. Dengan terciptanya realisasi bisnis, maka visi IEC untuk mencetak lebih banyak lagi entrepreneur dapat terwujud. Realisasi bisnis dapat tercapai jika ada sebuah ide bisnis, konsep yang matang dan tentunya modal. Ketiga komponen inilah yang ingin coba diakomodasikan oleh IEC. Ide bisnis dapat distimulus lewat kompetisi ini, dan beberapa ide ‘luar biasa’ yang visible akan terseleksi dalam proses penjurian. Konsep bisnis yang matang berusaha diakomodir lewat E-Camp. Aspek modal dapat diakomodir dari kesempatan mendapatkan kerjasama dari para investor, dan tentunya bagi para pemenang, modal dapat diakomodir dari hadiah kejuaraan.