Rabu 28 Maret 2012, saya bersiap-siap untuk Seminar Tugas Akhir saya (Pre Thesis Defense, kalo bahasa kerennya–red) yang rencananya diselenggarakan siang itu jam 12.00 di depan 3 orang dosen penguji Teknik Sipil ITB. Tiba-tiba tepat sebelum masuk ruang seminar, HP saya berbunyi ternyata telepon dari seorang sahabat yang menanyakan “Nard, ntar sore ke Kamboja ya”, beberapa minggu sebelumnya memang kami pernah membicarakan perihal acara ASEAN People Forum 2012 yang diselenggarakan di Phnom Penh, tapi seingat saya acara itu diselenggarakan akhir April bukan akhir Maret 2012 (maklum banyak pikiran, hehehe)
————————————————————————————————————————————————-
Well, ASEAN People Forum 2012 yang saya hadiri ini diselenggarakan di Phnom Pehn untuk menghasilkan sebuah joint statement dari pemuda dan delegasi (sebagian besar pengusaha dan politisi muda) dari seluruh perwakilan negara ASEAN. Joint statement tersebut berisi pernyataan kolaboratif yang meliputi 13 sektor strategis yang masing-masing menjadi concern bersama di wilayah ASEAN. Joint statement tersebut kemudiah direkomendasikan kepada para kepala negara dan kepala pemerintahan ASEAN yang minggu depannya juga menggelar rapat terbatas di Phnom Pehn ,Cambodia. Belakangan diketahui Presiden SBY yang semula direncanakan hadir, ternyata harus tetap di tanah air dan diwakili oleh Wapres Boediono, karena situasi dalam negeri yang waktu itu kurang kondusif berkaitan dengan isu kenaikan BBM.
————————————————————————————————————————————————-
Singkat cerita setelah selesai seminar sekitar pukul 13.00 saya langsung cari tiket untuk secepatnya sampai di Phnom Penh, karena sebenarnya acara tersebut sudah dimulai tanggal 28 itu juga. Akhirnya randomly, saya dapat pesawat malam itu juga dari Indonesia ke Kuala Lumpur pk 20.00, dan flight ke Phnom Penh dari KL baru pk 06.00 keesokan harinya. “My Life is totally random”.
Di tengah penantian menunggu pesawat yang akan berangkat hari kamis pagi itu saya sempat menyimpan keraguan yang anehnya baru terpikir malam itu. “Kamboja itu negara macam apa ya?” , selama ini saya hanya mendengar Kamboja dan Phnom Pehn itu cuma dari pelajaran Geografi zaman SMP.
Ini negara macam apa, main bola ama Indonesia aja kita masih menang 9-0 (hehehe,,). Ada dulu saya pernah tahu pemain bola paling jago di Kamboja namanya Hok Sochetra, tapi juga susah banget kayaknya ngebobol gawang kita ya..hehehe
Atau juga paling saya tahu dan pernah dengar tentang pemberontakan Polpot dan Khmer merah-nya. Di luar itu? enggak ada! selama saya hidup belum pernah saya dengar ada orang yang merekomendasikan ke saya tentang liburan ke Kamboja, hehehe.
Parahnya di KL airport waktu lagi nunggu pesawat, tiba-tiba ada seorang wanita yang mungkin seumuran saya dateng duduk tepat di sebelah saya. Lalu doi pun ngajak ngobrol, eh begitu tahu saya mau ke Phnom Pehn doi langsung ngacir kabur. Damn! Segitu kacaunya kah negara itu kata saya dalam hati.
Cuma satu kata yang waktu itu terpikir:
Suram!, tapi tanggung juga sudah separo jalan pikir saya waktu itu. Yasudahlah dilanjut saja (pasrah–hehehe)
——————————————————————————————————————————————-
Akhirnya saya mendarat juga di Phnom Pehn sekitar jam 08.00 waktu setempat, (disana waktunya sama seperti WIB-red). Karena tidak tahu apa-apa maka saya jaga-jaga untuk tukar beberapa USD yang saya punya ke Real Cambodia di airport, belakangan itu saya sesali karena di negara itu bahkan orang-orangnya sendiri lebih suka transaksi pakai USD daripada duit negara mereka sendiri. Kacau!
Disana saya dijemput oleh semacam LO untuk saya dari pemerintah Kamboja, seorang laki-laki 23 tahun dari Depkeu-nya Kamboja yang baru selesai dari pendidikannya di Perancis dan seorang Major Police ( kalau di Indonesia setingkat Komisaris Polisi a.k.a Kompol), mereka berdua ditugaskan untuk ‘take care of me’ katanya selama disana hehe.
Satu hal yang mengesankan dari Kamboja salah satunya memang karena orang-orang disana yang memang sangat ramah. Mayoritas mereka beragama Budha dan suku mayoritasnya adalah suku Khmer dengan bahasa nasional mereka bahasa Khmer.
Tentunya acara inti yang saya ikuti selama di Phnom Penh adalah ikut conference yang diselenggarakan di Chaktomouk Conference Hall, yang katanya paling bagus di Phnom Pehn itu. Jauh memang kalau dibandingkan dengan gedung-gedung di Jakarta.
Untungnya di conference tersebut saya bertemu dengan dua orang delegasi dari Indonesia lainnya, semula saya berpikir mungkin saya satu-satunya delegasi Indonesia disana dan akan menghabiskan waktu dengan kesendirian hehehe. Ternyata disana ada juga Lukman (mahasiswa jurusan politik UI, yang juga president ISAFIS) dan Lusia (mahasiswa jurusan HI UPH). Akhirnya dengan perkenalan singkat, kami saling menjadi partner in-crime satu sama lain. Entah bagaimana perjalanan saya ke Kamboja tanpa mereka (cie elah hehehe).
Berbicara tentang Kamboja, Kamboja saat ini tumbuh sebagai negara yang sedang berkembang ekonominya. Tapi sama dengan negara-negara berkembang lainnya pemerataan ekonomi dan kesejahteraan masih menjadi problem tersendiri bagi mereka. Di jalanan kamboja yang kecil-kecil itu saya sering melihat mobil mewah macam range rover dan lexus melintas, sama seringnya dengan melihat avanza melintas di jalanan Bandung.
Phnom Pehn, ibukota Kamboja memang masih mirip kota Pekalongan, atau mungkin Jakarta tahun 1980-an. Tapi beberapa distrik disana ada yang juga berkembang pesat, kawasan disekitar kompleks kasino Nagaworld (yang konon banyak turis asing termasuk dari Indonesia juga bermain judi disana–red) cukup mewah, mungkin gedung-gedungnya mirip kawasan perniagaan SCBD di Jakarta.Sepertinya masih banyak potensi bisnis yang bisa diolah dari negara-negara berkembang Indochina seperti Kamboja ini.
Untuk rekomendasi liburan banyak orang disana merekomendasikan ke Siem Reap, kota di selatan Kamboja dimana disana juga terdapat bandara Internasional, selain di Phnom Pehn. Di Siem Reap ini banyak turis datang untuk mengunjungi Angkor Wat dan Angkor Tom. Sayangnya kunjungan 3 hari saya terlalu singkat untuk sampai kesana, saya hanya dihadiahi sebuah buku tentang Angkor Wat oleh LO saya disana. Dan dari buku itu, sepertinya Siem Reap lah yang jadi andalan kunjungan pariwisata disana.











